Manusia Adalah Pemimpin
Manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin/khalifah dimuka bumi ini, memimpin untuk dirinya sendiri agar bisa mengalahkan hawa nafsu, memimpin keluarganya agar menjadi keluarga Qur'ani, memimpin untuk lingkungan sekitar, dan lain sebagainya. Kebanyakan orang mendefinisakan pemimpin itu ketika memegang amanah di organisasi, lembaga, dan pemerintahan. Sehingga lupa bahwa lingkup kecil yang justru menjadi tolak ukur kita apakah kita sudah berhasil menjadi pemimpin atau tidak. Yaitu Memimpin diri Sendiri dan Keluarga kita. Banyak yang berhasil menjadi pemimpin organisasi, perusahaan, pemerintahan namun gagal mendidik anak-anaknya, sehingga kita harus mencatat bahwa visi kepemipinan itu berada dalam rumah kita.Keluarga Adalah Ladang Dakwah Utama Kita.
Sesungguhnya Allah menitipkan amanah besar di rumah-rumah kita, berupa visi kepemimpinan, mencetak keturunan yang kelak menjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa. Lihatlah generasi sahabat radiyallaahu ‘anhum. Rumah-rumah mereka dijadikan pusat pengkaderan pemimpin. Banyak diantara sahabat mulia yang anaknya pun tampil menjadi Sahabat Rasulullah, berjuang bersamanya menegakkan risalah al-Islam sebagaimana ayah ibunya. Doa, tauladan yang baik, visi ayah-ibu yang sejalan dan konsisten menjalan visi tersebut adalah kunci mencetak Generasi Qur'ani yang bermulai dari Rumah-rumah kita.Umar bin Khoththob yang
mengkader anaknya menjadi sahabat Nabi yang utama, Abdullah bin ‘Umar, juga
kemudian lahir keturunannya pemimpin besar Umar bin
Abdul Azis. Umar bin Abdul Azis berhasil menjadi gubernur yang amanah, zuhud, dan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Bahkan sampai kesulitan mencari Mustahiq (penerima zakat).
Panglima besar ummat Islam
lainnya saat berusia belia 16 tahun, Usamah bin Zaid adalah
anak dari Zain bin Haritsah.
Yasser bin Amr dan Sumayyah,
yang melahirkan anak Ammer bin Yasser.
Abdullah bin Abbas merupakan didikan Abbas bin Abdul Mutholib.
Sang Penakluk Konstantinopel, Muhammad al-Fatih, yang Rasulullah mengatakan ia
sebaik-baik pemimpin, adalah anak dari Sultan Murad II.
Lalu, lihatlah kisah pemuda
Najmuddin Ayyub. Lama ia mencari pasangan hidup. Ia katakan
“ Aku ingin mencari isteri sholihah, yang bisa
melahirkan dan mendidik anak dengan baik, hingga jadi pemuda kesatria, yang
mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin”. Ternyata
calon isterinya pun memiliki obsesi yang sama persis, mencari suami yang siap
mengkader anaknya menjadi kesatria pembebas Baitul Maqdis. Sekalipun coba
dijodohkan dengan anak-anak sulthan kaya raya, mereka tolak. Akhirnya mereka
berjodoh, dan dari pasangan ini lahirlah sang pembebas Baitul Maqdis, sang
legendaris, Sholahuddin al-Ayyubi.
Inilah makna doa yang sering
kita minta pada Allah, Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata
a’yun, waja’alna lil muttaqina imama. “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami
istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam
(pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)
Rumah-rumah kita
harusnya menjadi markas pembentukan dan pelatihan calon-calon pemimpin, imam,
yang siap berkontribusi untuk kebaikan ummat, dan negerinya. Keturunan yang
siap melakukan kerja-kerja amar ma’ruf nahyi mungkar, menegakkan kebenaran,
menghilangkan kebatilan di negerinya.
Tak ada yang salah jika para
orang tua mengimpikan anak-anaknya kuliah di perguruan tinggi bergengsi, hingga
menyiapkan dana besar untuk itu. Namun hendaknya bukan sekedar obsesi duniawi
semata, membayangkan mudahnya mendapat pekerjaan di perusahaan mapan, dengan
gaji besar, membeli rumah dan mobil mewah. Sayangnya,
jika mau jujur, inilah orientasi besar dari kebanyakan para orang tua.
Sungguh itu semua tak akan berarti untuk kehidupan akhirat yang abadi, yang
jauh lebih baik dari kehidupan dunia fana ini. Bukankan Rasulullah mengajarkan
kita untuk mewariskan keturunan sholeh, yang mendoakan orang tuanya, agar
pahala itu terus mengalir, membantu kita saat kitaa wafat Kelak.
(Moh. Zaiful Arifin, S.TP, M.Si).
Da'i Muda IKADI Kab. Bogor.




