Senin, 24 Agustus 2020

Keluarga Adalah Ladang Dakwah Utama Kita.

Manusia Adalah Pemimpin

Manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin/khalifah dimuka bumi ini, memimpin untuk dirinya sendiri agar bisa mengalahkan hawa nafsu, memimpin keluarganya agar menjadi keluarga Qur'ani, memimpin untuk lingkungan sekitar, dan lain sebagainya. Kebanyakan orang mendefinisakan pemimpin itu ketika memegang amanah di organisasi, lembaga, dan  pemerintahan. Sehingga lupa bahwa lingkup kecil yang justru menjadi tolak ukur kita apakah kita sudah berhasil menjadi pemimpin atau tidak. Yaitu Memimpin diri Sendiri dan Keluarga kita. Banyak yang berhasil menjadi pemimpin organisasi, perusahaan, pemerintahan namun gagal mendidik anak-anaknya, sehingga kita harus mencatat bahwa visi kepemipinan itu berada dalam rumah kita.

Keluarga Adalah Ladang Dakwah Utama Kita. 

Sesungguhnya Allah menitipkan amanah besar di rumah-rumah kita, berupa visi kepemimpinan, mencetak keturunan yang kelak menjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa. Lihatlah generasi sahabat radiyallaahu ‘anhum. Rumah-rumah mereka dijadikan pusat pengkaderan pemimpin. Banyak diantara sahabat mulia yang anaknya pun tampil menjadi Sahabat Rasulullah, berjuang bersamanya menegakkan risalah al-Islam sebagaimana ayah ibunya. Doa, tauladan yang baik, visi ayah-ibu yang sejalan dan konsisten menjalan visi tersebut adalah kunci mencetak Generasi Qur'ani yang bermulai dari Rumah-rumah kita.


Umar bin Khoththob yang mengkader anaknya menjadi sahabat Nabi yang utama, Abdullah bin ‘Umar, juga kemudian lahir keturunannya pemimpin besar Umar bin Abdul Azis. Umar bin Abdul Azis berhasil menjadi gubernur yang amanah, zuhud, dan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Bahkan sampai kesulitan mencari Mustahiq (penerima zakat).

Panglima besar ummat Islam lainnya saat berusia belia 16 tahun, Usamah bin Zaid adalah anak dari Zain bin Haritsah.

Yasser bin Amr dan Sumayyah, yang melahirkan anak Ammer bin Yasser.

Abdullah bin Abbas merupakan didikan Abbas bin Abdul Mutholib.

Sang Penakluk Konstantinopel, Muhammad al-Fatih, yang Rasulullah mengatakan ia sebaik-baik pemimpin, adalah anak dari Sultan Murad II.

Lalu, lihatlah kisah pemuda Najmuddin Ayyub. Lama ia mencari pasangan hidup. Ia katakan
“ Aku ingin mencari isteri sholihah, yang bisa melahirkan dan mendidik anak dengan baik, hingga jadi pemuda kesatria, yang mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin”. Ternyata calon isterinya pun memiliki obsesi yang sama persis, mencari suami yang siap mengkader anaknya menjadi kesatria pembebas Baitul Maqdis. Sekalipun coba dijodohkan dengan anak-anak sulthan kaya raya, mereka tolak. Akhirnya mereka berjodoh, dan dari pasangan ini lahirlah sang pembebas Baitul Maqdis, sang legendaris, Sholahuddin al-Ayyubi.

Inilah makna doa yang sering kita minta pada Allah, Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun, waja’alna lil muttaqina imama. “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)

Rumah-rumah kita harusnya menjadi markas pembentukan dan pelatihan calon-calon pemimpin, imam, yang siap berkontribusi untuk kebaikan ummat, dan negerinya. Keturunan yang siap melakukan kerja-kerja amar ma’ruf nahyi mungkar, menegakkan kebenaran, menghilangkan kebatilan di negerinya.

Tak ada yang salah jika para orang tua mengimpikan anak-anaknya kuliah di perguruan tinggi bergengsi, hingga menyiapkan dana besar untuk itu. Namun hendaknya bukan sekedar obsesi duniawi semata, membayangkan mudahnya mendapat pekerjaan di perusahaan mapan, dengan gaji besar, membeli rumah dan mobil mewah. Sayangnya, jika mau jujur, inilah orientasi besar dari kebanyakan para orang tua. Sungguh itu semua tak akan berarti untuk kehidupan akhirat yang abadi, yang jauh lebih baik dari kehidupan dunia fana ini. Bukankan Rasulullah mengajarkan kita untuk mewariskan keturunan sholeh, yang mendoakan orang tuanya, agar pahala itu terus mengalir, membantu kita saat kitaa wafat Kelak.

(Moh. Zaiful Arifin, S.TP, M.Si).
 Da'i Muda IKADI Kab. Bogor.

Jumat, 07 Desember 2018

GROUP PRODUK TARBAWI DAN FOBIA POLITIK


1. Produk Tarbawi
Tarbiyah adalah proses membangun peradaban, proses create dan kaderisasi pribadi, keluarga, hingga terbentuk Ustadziyaatul ‘aalam. Guru ditarbiyah disebut sebagai Murobbi karena fungsinya bukan hanya meningkatkan wawasanà(Ustad), namun juga mempunyai 3 tupoksi lagi yang sangat penting.
Murobbi menjadi teman curhat, membantu menyelesaikan masalah, menjadi orang yang selalu sigap memperhatikan Mutarobbinya agar mereka selalu senang dekat dengan sang kholik, selalu tumbuh dan berkembang memancarkan kemaslahatan dilingkungannyaà (Walid)
Murobbi menjadi guide dan GPS ketika mutarobbi bimbang dalam mengambil keputusan, namun tetap memberikan ruang untuk ber ijtihad pribadià (Qaid)
Murobbi dituntut bukan hanya berinteraksi sacara jasad dan fikriyah, namun jauh lebih dalam dari itu murobbi berinteraksi secara ruh, menyentuh hati, memperkokoh jiwa, membayangkan wajah wajahnya saat doa rabithah agar para mutarobbi selalu istiqomah dalam barisan dakwah inià (Syekh).
Kita adalaha produk tarbawi, kita merasakan manisnya lingkaran kecil itu....
Kita adalah produk tarbawi, kita tersentuh dengan cinta tulus murobbi itu....
Kita adalah produk tarbawi, kita rindu dengan moment perjuangan kampus itu...
Ini adalah entitas homogen karena mayoritas dihuni oleh produk tarbawi, mari kita berdiskusi politik dengan adab islami, karena politik adalah bagian dari tarbiyah dan kita sudah selesai dengan pembahasan al-hizbu huwal-jama’ah wal-jama’ah hiyal hizb’.  


2. Fobia Politik
Kata fobia ini mungkin yang membuat beberapa orang Illfeel. phobia is an extreme fear or dislike of a particular thing or situation. Perasaan khawatir dan takut yang berlebihan jika group bahas politik ukhuwah akan rusak, debat kusir, sakit hati dsb. Padahal politik itu tools jamaah agar bisa berkontribusi lebih banyak,  dan kita berdiskusi di group produk tarbawi.
Fobia itu perlu pada isu politik yang destruktif dan isu politik yang disampaikan dengan Amoral. Yang membuat ukuwah retak bukan politiknya, namun isu value destruktif dan penyampaian dengan Amoralnya. Kedua hal ini bukan hanya mendegradasi nilai luhur politik, namun juga bertentangan  dengan esensi agama/dakwah (16:125). Kita dukung isu politik Konstruktif dan kita hentikan politik Destruktif.
Contoh Isu Politik Konstruktif
- PKS Janjikan SIM seumur hidup
- PKS Janjikan Bebas pajak motor
- Kader PKS selamatkan 8 Sandra Trans Papua

Contoh Isu Politik Destruktif
- Mendefinisikan GARBI sebagai GARBage of tarbawI

Kesimpulan
Peak dari tulisan ini adalah politik itu bagus, tools tarbiyah untuk melayani, boleh didiskusikan terlebih ini group PRODUK TARBAWI, yang bikin jelek adalah Value destruktif dan cara penyampaian yang Amoralnya.

Arifin, MZ (07/12/2018)

Selasa, 18 Februari 2014

"Menjadi Otak, Hati, Tulang Punggung Indonesia"




Memimpin Indonesia tidak akan berhasil hanya karena menjadi seorang presiden, tidak akan berhasil hanya karena punya banyak menteri. Anda akan berhasil memimpin Indonesia apabila mau menjadi otaknya Indonesia hatinya Indonesia dan tulang punggung Indonesia. Pemimpin negeri ini harus menguasai wacana, memiliki kemampuan mengarahkan atau menggerakkan emosi publik, serta mampu merealisasikan rencana atau program-program pembangunan. Fungsi tersebut bisa dilihat dalam pemerintahan Orde Baru. “Militer bisa memimpin selama Orde Baru itu bukan karena Pak Harto (Presiden Soeharto),  Sejak awal Orde Baru, militer sudah intensif mengembangkan wacana keindonesiaan. Bahkan, hasil seminar TNI Angkatan Darat tahun 1966 digunakan sebagai ide dasar penyusunan platform pembangunan. Pada sisi inilah, militer berhasil memosisikan diri sebagai otaknya Indonesia Militer juga berhasil menggerakkan emosi masyarakat dengan menciptakan kepercayaan diri dan optimisme bangsa. Selain itu, militer juga menguasai pemerintahan karena diberlakukan Dwi-Tungsi ABRI. Itulah kenapa dia (militer) mampu mengeksekusi (merealisasikan) semua rencana Pembangunan yang dicanangkan sebelumnya.


Pelajaran untuk Parpol
Mengambil pengalaman Pemerintahan Orde Baru bukan berarti PKS menginginkan militer berkuasa kembali. Peran yang diambil militer sebagai otak, hati, dan tulang punggung bangsa itulah yang seharusnya menjadi pelajaran partai politik sebagai pabrik pemimpin bangsa.Seharusnya setelah Dwifungsi ABRI dihapuskan pada era Reformasi, parpol bisa mengambil peran yang sebelumnya dilakukan kelompok militer. Namun, hingga 15 tahun reformasi, belum ada satu pun kekuatan Politik yang mampu. PKS sendiri diakui belum mampu menjalankan fungsi sebagai otak, hatl dan tulang punggung lndonesia.10 tahun Pertama habis untuk membangun infrastrukfur dan kapasitas lain untuk menjadi partai modern. Penguatan ideologi dan Penokohan sebenarnya sudah dirancang dilakukan pada 10 tahun kedua PKS, tetapi terhenti karena terganjal kasus hukum yang menimpa mantan Presiden PKS.Setelah reformasi tahun 1998, semestinya fokus perhatian pemerintah juga berubah. Perhatian tak lagi difokuskan pada politik seperti Orde Lama atau fokus ke ekonomi seperti pada Orde Baru, tetapi fokus kepada masyarakat sipil. Pasalnya politik dan ekonomi sudah menemukan keseimbangan baru. Begitu Pula sumber-sumber ketegangan lain, seperti relasi agama dan negara, dialektika demokrasi dan Pembangunan, serta hubungan Pusat dan daerah sudah menemukan keseimbangan baru. Keseimbangan baru juga terlihat dengan munculnya relasi antara negara, agama, dan masyarakat sipil. Akan tetapi, sayang keseimbangan baru itu muncul bersamaan dengan fenomena baru, yakni ledakan demografi baru. Muncul sebuah generasi baru yang lahir tahun 1990-an, yang tak punya asosiasi emosional dan ideologi terhadap sumber ketegangan pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Mereka lahir di tengah ideologi baru, yakni demokrasi dan pasar bebas. Persoalan muncul karena para politisi atau calon pemimpin bangsa justru masih menggunakan isu-isu lama seperti kedaulatan, integrasi, dan nasionalisme. Yang menjadi perbincangan lembagalembaga Politik tidak sesuai dengan yang dipikirkan dan dibutuhkan masyarakat. Masyarakat yang cara pandangnya sudah berubah juga tidak merasakan manfaat negara dan semua institusi politik. Akibatnya muncul ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara dan institusi politik. Kondisi itu juga menyebabkan terjadi disorientasi sehingga bangsa kehilangan arah. Kegaduhan terjadi dimana-mana, tetapi sebenarnya tidak ada hal substansial yang menjadi pokok perdebatan.


Bukan pemimpin otoriter
Untuk menghadapi persoalan baru tersebut diperlukan pula pendekatan baru dalam model kepemimpinan. Masyarakat tidak memerlukan lagi pemimpin yang otoriter atau pemimpin yang hanya mengandalkan wibawa. Pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mengandalkan gagasan, memiliki kemampuan persuasif, dan kemampuan koordinasi.  Anis menganalogikan pemimpin seperti pemandu sorak.
Dengan kata lain, tugas pemimpin adalah menciptakan lingkungan strategis bagi masyarakat untuk terus berkembang. Masyarakat harus dibuat taat kepada pemimpin karena pemimpin memiliki gagasan besar yang bermanfaat untuk masyarakat. Pendekatan semacam itulah yang juga dilakukan PKS. Kader taat bukan karena takut pada otoritas partai, melainkan karena sadar pada kebenaran dalam gagasan yang dibawa pemimpin mereka. Bicara masalah ketegangan antara Islam, modernitas, dan ke-indonesiaan, itu sudah menjadi masa lalu. Saat ini, ketegangan segitiga pada masa lalu tersebut semestinya dijadikan dasar untuk membangun masa depan Indonesia. PKS memiliki gagasan mengintegrasikan agama, pengetahuan, dan kesejahteraan untuk membangun masa depan bangsa. PKS tidak ingin lagi ada komplikasi antara Islam dan keindonesiaan atau Islam dengan modernitas. Hal itu karena Islam yang dibawa PKS merupakan Islam yang moderat dan terbuka. Gagasan itulah yang melandasi PKS memutuskan menjadi parpol terbuka sejak tahun 2008. Denjan menyatukan agama, pengetahuan, dan kesejahteraan, Indonesia diharapkan akan menjadi bangsa yang religius, lebih berpengetahuan, tetapi sejahtera. Agama akan memberikau basis orientasi dan basis moral. Pengetahuan memberikan basis kompetensi dan basis produktivitas. Adapun kesejahteraan merupakan cita-cita Indonesia yang tercantum dalam konstitusi, yakni menjadi negara adil dan makrnur. Dengan penyatuan agama, pengetahuan, dan kesejahteraan itu, Indonesia diyakini akan menjadi model bagi negara-negara Islam dan juga negara-negara Barat. 

(Ustad Anis Matta)
(Edisi-II, Asupan Kader Dakwa)

 


Rabu, 29 Januari 2014

Antara Rupiah dan Ruhiyah



"Antara Rupiah dan Ruhiyah"

 

      Saudaraku yang dirahmati Allah, kadang kita merasa gersang ketika kita melaksanakan shalat, Tilawah dan ibadah semacamnya, tidak sesemangat ketika kita mengerjakan proyek bernilai rupiah besar, sesemangat bekerja dipagi nan gelap untuk mengejar target bisnis besar, atau apapun yang berhubungan dengan rupiah. Sesungguhnya Allah tidak memisahkan keduanya dalam penilaian disisinya, Allah Ber firman : “ Pada hari ketika harta dan anak anak tidak berguna kecuali orang orang yang menghadap Allah  dengan hati yang bersih” (QS 26 :88-89) Rasulullah Bersabda “ Allah tidak melihat penampilanmu dan fisikmu tetapi yang Allah lihat  adalah hatimu” (HR. Muslim no. 4651)

     Allah menilai keseluruhan hidup kita baik ketika sedang berbisnis , berpolitik , shalat, tilawah, berolahrga atau sedang apapun dan kesemuanya bersumber pada hati, hati yang bersih atau yang kotor. jika hati bersih maka semuanya menjadi baik dan efektif jika hati kotor  maka semuanya menjadi buruk dan merusak, ketika berbisnis, berpolitik, berdagang, mengajar  dsb maka ruhiyah kita tetap terjaga niat dan cara kita tetap konsisiten denga orientasi akhirat, begitu pula ketika shalat, shaum , tilawah dsb. Ruhiyah mewakili keimanan rupiah mewakikli materialisme, keduanya  senantiasa bertempur berebut pengaruh di ajang sarana aktivitas ibadah mahdhoh maupun ibadah umum, atau dalam seluruh lapangan kehidupan, siapa pemenangnya? Allah Berfirman “ Beruntunglah orang yang senantiasa  membersihkan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya”(QS 91 :9-10).
(Taujih Pekanan Kader Dakwah ke - 1)